SINAR KOTA, JAKARTA – Di tengah kritik publik tentang stagnasi regenerasi partai politik yang dinilai elitis dan berputar pada lingkaran kekuasaan lama, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mencoba menampilkan narasi berbeda.
Partai ini menegaskan bahwa proses kaderisasi tidak lahir dari momentum elektoral semata, melainkan dirancang sejak awal sebagai fondasi ideologis dan teknokratis.
Salah satu figur yang kerap diajukan sebagai representasi model regenerasi tersebut adalah Danang Wicaksana Sulistya.
Dalam sebuah perbincangan di podcast Gaspol!, Danang membantah anggapan bahwa keterlibatan anak muda di Gerindra baru menguat setelah partai itu masuk lingkar kekuasaan.
Ia menyebut, sejak awal berdirinya, partai telah membangun skema pembinaan bernama Gerindra Masa Depan. Program itu ditujukan bagi kader di bawah usia 25 tahun, dengan kurikulum yang meliputi pelatihan kepemimpinan, penguatan ideologi, hingga simulasi pengambilan keputusan publik.
Jejak Danang dalam partai tidak terlepas dari dinamika politik nasional pasca-2004. Ia termasuk generasi awal yang bergabung setelah Prabowo Subianto tidak lolos dalam konvensi Golkar tahun itu.
Bersama sejumlah alumni SMA Taruna Nusantara, ia memilih mengikuti Prabowo membangun Gerindra dari nol. Bagi mereka, politik dimaknai sebagai instrumen koreksi terhadap arah bangsa, bukan sekadar arena kompetisi kekuasaan.
Dua dekade berselang, sebagian dari generasi itu kini menduduki posisi strategis di pemerintahan. Sugiono dipercaya sebagai Menteri Luar Negeri, Agus Harimurti Yudhoyono memimpin Kementerian ATR/BPN, Prasetyo Hadi menjabat Menteri Sekretaris Negara, dan Rachmat Kaimuddin terlibat dalam pengelolaan sektor ekonomi.
Di parlemen, Danang berada di Komisi V DPR yang membidangi infrastruktur dan perhubungan—sektor yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.
Dalam sejumlah pernyataan publik, Danang kerap mengutip pesan Prabowo tentang pentingnya mencintai rakyat dan menggunakan akal sehat dalam kepemimpinan.
Baginya, akal sehat bukan slogan moral, melainkan parameter kebijakan: pembangunan harus diukur dari dampaknya terhadap wong cilik. Jika kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dan roda ekonomi lokal bergerak, barulah kepemimpinan dapat dinilai efektif.
Pendekatan itu tercermin dalam sikap politiknya di Senayan. Ia vokal mendorong percepatan rehabilitasi infrastruktur di wilayah terdampak bencana agar distribusi logistik dan aktivitas ekonomi tidak terhenti berkepanjangan.
Ia juga mengkritisi kebijakan yang berpotensi meminggirkan kelompok rentan serta mendukung program padat karya sebagai mekanisme distribusi manfaat pembangunan yang lebih langsung.
Regenerasi di tubuh Gerindra, dalam konteks ini, tidak berhenti pada kehadiran wajah muda. Danang menempatkan diri sebagai penghubung antara generasi pendiri dan kader baru.
Pengalamannya melewati tiga kekalahan pemilihan presiden dan sejumlah kekalahan pilkada sebelum kemenangan 2024 memberinya legitimasi untuk berbicara tentang konsistensi politik. Ia kerap menekankan bahwa kemenangan bukan garis akhir, melainkan fase pembuktian.
Di ranah komunikasi politik, ia mengadopsi pendekatan yang relatif adaptif. Media sosial dan forum digital dimanfaatkan sebagai ruang dialog dua arah. Isu-isu seperti APBN, transmigrasi, hingga Trisakti dijelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana tanpa kehilangan konteks ideologis.
Strategi ini sejalan dengan kecenderungan komunikasi politik kontemporer yang menuntut transparansi dan aksesibilitas.
Dalam kerangka yang lebih luas, peran Danang dalam regenerasi Gerindra dapat dibaca dalam tiga lapis. Pertama, sebagai contoh kader yang bertahan dan tumbuh bersama partai. Kedua, sebagai artikulator ideologi di ruang publik. Ketiga, sebagai legislator yang berupaya menerjemahkan gagasan ke dalam kebijakan konkret.
Regenerasi, dalam pengertian ini, bukan sekadar peremajaan usia, melainkan kesinambungan nilai dan kapasitas. Danang menyebut dirinya bagian dari Generasi Trisakti—sebuah istilah yang merujuk pada upaya mengintegrasikan idealisme Bung Karno dengan visi Prabowo dalam kebijakan riil.
Apakah model ini akan berhasil menjawab ekspektasi publik terhadap politik yang lebih substantif, waktu yang akan menguji.
Namun satu hal yang mulai terlihat: regenerasi yang dirancang sebagai proses panjang dan ideologis berpotensi lebih tahan terhadap perubahan siklus kekuasaan.
Bagi Gerindra, taruhan sesungguhnya bukan hanya mempertahankan kemenangan, melainkan menjaga konsistensi antara narasi dan kebijakan. Dan di titik itulah peran kader muda seperti Danang Wicaksana Sulistya menjadi signifikan. (Zh).


