SINAR KOTA, BANGKALAN – Di sebuah dusun di kawasan timur Kabupaten Bangkalan, sekitar 40 perempuan berkumpul untuk belajar membaca, menulis, berhitung, memahami pengelolaan ekonomi rumah tangga, hingga mengenal pemanfaatan teknologi digital sederhana.
Aktivitas tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen Universitas Terbuka (UT) Surabaya Tahun 2026 yang mengusung tema Aksara Berdaya: Pemberdayaan Perempuan melalui Literasi Fungsional Berbasis Kearifan Lokal Madura.
Program yang dilaksanakan di Dusun Katol Timur, Desa Katol, Kecamatan Kokop, itu dirancang sebagai upaya memperluas akses pembelajaran bagi perempuan desa sekaligus memperkuat kapasitas mereka dalam menghadapi perubahan sosial dan ekonomi.
Bagi UT Surabaya, literasi tidak lagi dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis, melainkan keterampilan yang memungkinkan seseorang mengambil keputusan, memahami informasi, dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Pendekatan yang digunakan dalam program ini berbeda dari pelatihan literasi pada umumnya. Tim pelaksana memilih menjadikan budaya lokal Madura sebagai bagian utama dalam proses pembelajaran.
Berbagai unsur kehidupan masyarakat setempat, mulai dari bahasa daerah, cerita rakyat, tradisi, hingga aktivitas sosial dan ekonomi warga, digunakan sebagai media belajar.
Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga belajar melalui pengalaman yang dekat dengan keseharian mereka.
Metode ini dinilai mampu menciptakan suasana belajar yang lebih partisipatif sekaligus memperkuat hubungan antara pendidikan dan identitas budaya masyarakat.
Kegiatan Aksara Berdaya mencakup sejumlah materi yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Selain kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung, peserta mendapatkan penguatan dalam bidang komunikasi, literasi ekonomi keluarga, serta penggunaan media digital sederhana yang dapat dimanfaatkan dalam aktivitas sehari-hari maupun kegiatan usaha mikro.
Ketua Tim Penggerak PKK Desa Katol Timur, Khumairoh, mengatakan program tersebut memberikan dampak positif terhadap perempuan di wilayahnya.
Menurut dia, materi yang diberikan mudah diterima karena disusun berdasarkan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.
Ia melihat perubahan yang cukup nyata pada peserta setelah mengikuti rangkaian kegiatan. Tidak hanya dari sisi kemampuan belajar, tetapi juga dari keberanian mereka untuk terlibat dalam berbagai aktivitas sosial di lingkungan desa.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi ibu-ibu karena pembelajarannya sederhana, dekat dengan budaya masyarakat, dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Kami melihat peserta menjadi lebih semangat belajar, lebih percaya diri, dan lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat. Semoga program ini terus berlanjut dan memberi dampak yang luas bagi perempuan desa,” kata Khumairoh.
Apresiasi terhadap program tersebut juga datang dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan. Dedy Noviantoro, S.Kom., M.AP., menilai kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat memiliki kontribusi penting dalam pembangunan sumber daya manusia daerah.
Menurut Dedy, peningkatan literasi masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak. Dalam konteks itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk menciptakan dampak yang lebih luas.
“Program ini bukan hanya meningkatkan kemampuan literasi masyarakat, tetapi juga mengangkat budaya lokal Madura sebagai kekuatan pembangunan masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat seperti ini menjadi langkah strategis untuk menciptakan masyarakat yang mandiri, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.
Ketua Tim PkM Dosen Universitas Terbuka Tahun 2026, Dr. Milawati, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa program ini menggunakan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA). Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran dan pemberdayaan.
Dalam model ini, masyarakat tidak diposisikan sebagai penerima manfaat semata. Mereka dilibatkan untuk mengidentifikasi kebutuhan, menyusun kegiatan, hingga menentukan langkah-langkah yang relevan dengan kondisi lingkungan mereka sendiri.
Milawati mengatakan penggunaan kearifan lokal Madura sebagai media pembelajaran merupakan pilihan yang sengaja diambil agar materi lebih mudah diterima peserta.
Selain itu, pendekatan tersebut dinilai efektif untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Aksara Berdaya tidak hanya mengajarkan kemampuan literasi dasar, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, keberanian, dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal yang mereka miliki. Kearifan lokal Madura menjadi media pembelajaran yang sangat efektif karena dekat dengan kehidupan peserta dan mampu membangun rasa memiliki terhadap budaya sendiri,” ujarnya.
Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Yunita Pancasari, yang terlibat dalam pendampingan masyarakat selama kegiatan berlangsung, juga melihat tingginya partisipasi peserta. Menurut dia, para perempuan yang mengikuti program menunjukkan antusiasme yang konsisten sejak awal hingga akhir kegiatan.
Mereka, kata Yunita, merasa memperoleh kesempatan untuk belajar dalam suasana yang terbuka dan tidak menghakimi. Kondisi tersebut mendorong peserta lebih berani menyampaikan pendapat maupun berbagi pengalaman dengan peserta lainnya.
“Kami melihat ibu-ibu sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka merasa dihargai, didengarkan, dan diberi kesempatan untuk terus belajar. Program ini membantu masyarakat menjadi lebih percaya diri serta memiliki keterampilan yang dapat mendukung kesejahteraan keluarga,” tuturnya.
Direktur UT Surabaya, Prof. Dr. Suparti, M.Pd., mengatakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjalankan tridarma.
Karena itu, program yang diselenggarakan harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung.
Menurut Suparti, Aksara Berdaya merupakan salah satu bentuk komitmen UT Surabaya untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif dan menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan penguatan kapasitas.
“Universitas Terbuka berkomitmen menghadirkan program pengabdian yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui Aksara Berdaya, kami berharap lahir komunitas belajar yang mandiri, perempuan yang semakin berdaya, serta masyarakat yang mampu meningkatkan kualitas hidupnya melalui pendidikan dan penguatan potensi lokal,” katanya.
Rangkaian kegiatan dalam program tersebut meliputi pemetaan kebutuhan literasi masyarakat, pelaksanaan kelas literasi fungsional, integrasi kearifan lokal Madura dalam proses pembelajaran, penguatan literasi ekonomi dan digital sederhana, proyek komunitas, serta pendampingan lanjutan.
Peserta program terdiri atas perempuan, ibu rumah tangga, pelaku usaha mikro, dan warga aktif di lingkungan Desa Katol Timur.
Jumlah peserta mencapai sekitar 40 orang. Mereka menjadi kelompok sasaran utama dalam upaya memperluas akses literasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat desa.
Selain peningkatan kapasitas peserta, program ini juga ditargetkan menghasilkan sejumlah luaran, antara lain modul pembelajaran berbasis kearifan lokal Madura, produk dan karya masyarakat, dokumentasi praktik pemberdayaan, publikasi kegiatan, serta model pembelajaran yang dapat diterapkan di daerah lain dengan karakteristik serupa.
Bagi UT Surabaya, penguatan literasi berbasis budaya lokal tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kemampuan individu.
Program semacam ini juga menjadi ruang untuk merawat pengetahuan lokal, memperkuat partisipasi masyarakat, dan membuka peluang lahirnya komunitas belajar yang tumbuh dari kebutuhan serta potensi yang dimiliki masyarakat itu sendiri.



