SINAR KOTA, SURABAYA – Surabaya pagi itu terasa berbeda bagi sejumlah sivitas Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Di balik rutinitas akademik, tersimpan kegelisahan yang sama: kabar tentang banjir bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kegelisahan itu berubah menjadi tekad, ketika Unusa menyatakan akan menembus daerah-daerah yang hingga kini masih terisolasi, membawa satu hal yang dibutuhkan para korban: harapan.
Di ruang rapat kampus, Rabu (10/12/2025), Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN.Eng., memimpin koordinasi dengan sorot mata yang tegas namun penuh empati.
Ia tak hanya membahas strategi keberangkatan, tetapi juga alasan moral yang mendorong misi kemanusiaan tersebut.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya soal ruang kuliah, tetapi juga keberanian untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.
“Bener Meriah adalah titik terdampak paling berat. Akses jalan terputus, bantuan sulit masuk, dan ribuan warga masih menunggu pertolongan,” ujarnya perlahan, seolah tengah membayangkan medan berat yang akan dihadapi timnya.
Data yang masuk memang tidak ringan. Sekitar 46.611 jiwa di Kabupaten Bener Meriah kini hidup dalam keterbatasan. Jalan dan jembatan roboh, rumah rusak, listrik padam, telekomunikasi terputus; seakan seluruh penopang kehidupan berhenti bekerja dalam sekejap.
Beberapa warga bahkan harus berjalan berkilo-kilometer melewati tanah longsor hanya untuk mendapatkan air bersih atau sebungkus bantuan.
Dalam situasi seperti itu, kedatangan satu orang dokter saja dapat menjadi nyala kecil bagi ribuan harapan.
Unusa tak hanya mengirim satu, melainkan tim lengkap: dokter, perawat, bidan, ahli gizi, tenaga sanitasi lingkungan, epidemiolog, hingga dokter muda.
Mereka bukan sekadar profesional, tetapi juga relawan yang sadar bahwa perjalanan ini mungkin akan mempertemukan mereka dengan kenyataan paling rapuh dari kehidupan.
Belum berhenti di situ. Unusa juga menyiapkan satu unit mobil UNUSA-Water, sebuah kendaraan pengolah air bersih yang menjadi simbol solusi di tengah keterbatasan.
Mobil itu dirancang untuk menghasilkan air layak konsumsi bagi masyarakat yang kini bergantung pada sumber air apa pun yang masih tersisa.
Pihak kampus pun tengah menjajaki kerja sama dengan TNI AL agar kendaraan tersebut dapat dikirim melalui jalur logistik yang lebih aman dan cepat.
Namun, upaya Unusa tidak hanya bergerak ke luar kampus. Mereka juga menengok ke dalam, memastikan bahwa mahasiswa asal daerah bencana tidak terabaikan.
Terdapat tiga belas mahasiswa yang berasal dari wilayah terdampak. Dr. Umdatus Sholeha, Direktur Akademik, Kemahasiswaan dan Perpustakaan, menyampaikan bahwa proses pendataan dilakukan bukan sekadar administratif, tetapi juga emosional.
Banyak dari mahasiswa itu menyembunyikan kegelisahannya, tak ingin membebani orang lain meski keluarga mereka tengah dilanda musibah.
“Enam sudah kami wawancarai. Mereka mengatakan baik-baik saja, tetapi kondisi psikologis seseorang yang keluarganya berada di daerah bencana tentu tidak sesederhana itu,” ungkap Umdatus.
Kampus berkomitmen untuk memberi bantuan kapan pun diperlukan, agar musibah tidak menjadi penghalang bagi keberlanjutan pendidikan mereka.
Di tengah segala persiapan itu, gerakan solidaritas mulai tumbuh dari berbagai sudut kampus.
Organisasi mahasiswa menggalang dana, para dosen menginisiasi donasi rutin, sedangkan mahasiswa lain turun ke rumah sakit Yarsis untuk menjemput para donatur yang ingin berbagi.
Unusa pun membuka rekening Unusa Peduli, sebagai wadah kebaikan yang tak hanya ditujukan bagi internal kampus, tetapi juga masyarakat luas.
Unusa seolah mengingatkan bahwa bencana bukan hanya soal kerusakan fisik, tetapi juga tentang bagaimana manusia saling memulihkan.
Dalam setiap tenaga kesehatan yang dikirim, setiap liter air bersih yang diolah, dan setiap rupiah yang didonasikan, terdapat pesan bahwa kepedulian masih hidup.
Ketika tim Unusa nanti menjejakkan kaki di Bener Meriah, mereka tidak hanya membawa bantuan. Mereka membawa jembatan emosional antara Surabaya dan Aceh; sebuah pengingat bahwa di tengah bencana terbesar sekalipun, empati manusia tetap dapat menembus isolasi.


