SINAR KOTA, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) tidak ingin program Kuliah Kerja Nyata (KKN) hanya berhenti sebagai rutinitas akademik. Tahun ini, kampus tersebut mengerahkan 604 mahasiswa untuk terjun langsung ke tengah masyarakat dengan membawa misi pemberdayaan yang dirancang berkelanjutan.
Mahasiswa dari berbagai fakultas itu akan ditempatkan di 42 RW yang tersebar di sejumlah kelurahan di Surabaya. Mereka mengusung tema Unusa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat melalui Transformasi Kesehatan, Pendidikan, dan Bisnis Digital Berkelanjutan.
Pelepasan peserta KKN dilakukan langsung oleh Rektor Unusa Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, di halaman parkir Tower Kampus B Unusa, Jemursari, Jumat (24/7/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa, Tri Yogi menegaskan bahwa keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading yang terlihat indah, tetapi tidak berdampak dan tidak berguna bagi masyarakat. Melalui KKN ini kami ingin membuktikan bahwa kampus harus hadir memberikan solusi,” ujarnya.
Ia mengatakan, seluruh program KKN tahun ini diarahkan pada pengabdian masyarakat yang dipadukan dengan penelitian dan inovasi sesuai kebutuhan di lapangan.
Rektor juga membekali mahasiswa dengan tujuh pesan yang harus menjadi pegangan selama menjalankan pengabdian.
Pesan pertama adalah menjaga integritas dan nama baik Unusa di tengah masyarakat.
Mahasiswa juga diminta menunjukkan etos kerja tinggi, tidak mudah menyerah, serta mampu bekerja secara profesional. Selain itu, mereka diingatkan untuk tetap rendah hati, cepat beradaptasi, dan menjunjung tinggi nilai-nilai adab yang menjadi ciri khas sivitas akademika Unusa.
Tri Yogi turut mengingatkan pentingnya menjaga etika pergaulan selama berada di lokasi KKN. Seluruh peserta diminta mematuhi ketentuan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi dengan menghindari berbagai bentuk pelanggaran moral maupun tindakan yang dapat merugikan masyarakat.
Menurutnya, kekompakan dalam tim juga menjadi faktor penting agar seluruh program yang dirancang dapat berjalan efektif.
KKN tahun ini difokuskan di wilayah Surabaya dengan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).
Kolaborasi tersebut memungkinkan setiap kelompok mahasiswa memperoleh lokasi dan tema pengabdian yang telah disesuaikan berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan masyarakat.
Salah satu prioritas program adalah memperkuat transformasi digital melalui pendampingan UMKM. Mahasiswa akan membantu pelaku usaha memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan produktivitas, pemasaran, hingga pengelolaan usaha secara lebih modern.
Wakil Rektor III Unusa Prof. Dr. Bambang Sektoari Lukiswanto, DEA., DVM., menjelaskan seluruh peserta KKN berasal dari berbagai fakultas dan telah memasuki semester enam.
Sebanyak 604 mahasiswa itu akan disebar di 42 RW yang berada di Kelurahan Kapasari, Nginden Jangkungan, Kedurus, Krembangan Utara, Nyamplungan, Wonorejo, dan Tegalsari.
Menurut Bambang, penentuan lokasi dilakukan bersama BRIDA sehingga setiap kelompok memiliki fokus program sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
“Kami ingin KKN ini memberikan dampak yang lebih luas. Program yang dijalankan bukan sekadar kegiatan selama tiga minggu, tetapi menjadi awal lahirnya program-program berkelanjutan berdasarkan hasil survei terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat,” katanya.
Selain transformasi kesehatan dan pendidikan, mahasiswa juga akan menyusun berbagai program pemberdayaan ekonomi berbasis digital.
Harapannya, inovasi yang dibangun selama KKN dapat diteruskan oleh masyarakat bersama pemerintah daerah sehingga manfaatnya tetap dirasakan setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir. (Zhila).



