TerkiniKajian Subuh Masjid Al-Haq: Makna Tadabbur...

Kajian Subuh Masjid Al-Haq: Makna Tadabbur Al-Quran di Era Modern

SINAR KOTA, SURABAYA – Kajian Subuh di Masjid Al-Haq kembali dipadati jemaah. Kali ini, Ustaz Ir. Agus Mustofa hadir membawakan tema yang memantik pemikiran, “Metamorfosis Sang Nabi, Dari Buta Huruf Menjadi Ilmuwan Jenius.”

Dengan gaya penyampaian yang lugas dan penuh perbandingan ilmiah, ia mengajak jamaah melihat Nabi Muhammad SAW dari perspektif peradaban dan ilmu pengetahuan.

Agus Mustofa menjelaskan, Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, “Di dalam diri Nabi itu ada suri teladan yang baik.” Sebagai penutup para nabi, Muhammad SAW diberi mukjizat agung berupa Al-Quran, dengan keistimewaan akhlak yang mulia.

Karena itu, keteladanan beliau berlaku sepanjang zaman, relevan bahkan hingga era modern dan postmodern.

Menurut Ustaz Agus Mustofa, perkembangan peradaban manusia bertumpu pada kemampuan baca tulis.

Sejarah menunjukkan, sejak ditemukannya tulisan paku di Sumeria, hieroglif Mesir, aksara Yunani-Romawi, hingga berkembang ke Arab dan Nusantara, peradaban melaju pesat. Maka tidak mengherankan jika wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad justru perintah membaca: Iqra’.

“Di sinilah letak metamorfosis Nabi. Dari seorang yang ummi, Allah memproses beliau melalui wahyu, hingga mampu menyampaikan Al-Quran dengan kedalaman makna yang menopang peradaban manusia,” jelasnya.

Ustaz Mustofa menekankan, lebih dari 800 ayat Al-Quran berbicara tentang ilmu pengetahuan, sementara ayat tentang ibadah ritual seperti salat, puasa, zakat, dan haji hanya sekitar 150.

Hal ini, menurutnya, menandakan pesan kuat agar umat Islam menguasai ilmu pengetahuan demi membangun peradaban.

Selain membedah peradaban baca tulis, Agus juga mengkritisi pemahaman umat tentang khatam Al-Quran.

Ia menilai banyak umat Islam terjebak dalam ritual semata, tanpa menyentuh substansi.

“Khatam itu bukan hanya selesai membaca. Yang utama adalah memahami makna, mengeksplorasi isi, dan menjadikannya petunjuk hidup. Karena itu lebih tepat disebut tadarus, bahkan tadabbur, yaitu mengkaji dan mendalami kandungan Al-Quran,” tegasnya.

Ia juga menyinggung praktik salat yang kerap berhenti pada tata cara gerakan. Padahal, makna salat jauh lebih dalam.

Pertama, salat adalah dzikir, penghubung hati kepada Allah hingga jiwa bergetar saat menyebut nama-Nya. Kedua, salat adalah permohonan pertolongan kepada Allah. Ketiga, salat merupakan wujud syukur atas karunia-Nya.

“Salat bukan sekadar gerakan dan bacaan. Ia adalah pengalaman spiritual yang menyentuh relung hati terdalam,” tambahnya.

Dengan paparan itu, Ustaz Agus Mustofa menegaskan kembali pentingnya memahami agama secara substansial, tidak berhenti pada permukaan ritual.

Nabi Muhammad SAW yang awalnya ummi, melalui wahyu, mengalami metamorfosis hingga menjadi figur yang melahirkan peradaban ilmu pengetahuan.

Itulah teladan besar yang perlu diteladani umat Islam di sepanjang sejarah.

Share post:

spot_imgspot_img

Pupuler

BERITA TERKAIT
BERITA TERKAIT

Di Tengah Krisis Global, PT MNJ Gelar Doa Bersama untuk Bangsa dan Perdamaian Dunia

SINAR KOTA, GRESIK — Kawasan PT Metatu Nusantara Jaya...

HUT Ke-11 PT MNJ Dipusatkan di Area Perusahaan, Hadirkan Habib Syech

SINAR KOTA, SURABAYA – PT Metatu Nusantara Jaya (MNJ)...

Trauma dan Ketidakadilan, Perjuangan M Soleh Cari Perlindungan Negara di Surabaya

SINAR KOTA, SURABAYA – Tidak semua luka mengeluarkan darah....

PERTINA Surabaya Dorong Remaja Tinggalkan Tawuran, Beralih ke Ring Tinju

SINAR KOTA, SURABAYA - Fenomena tawuran remaja di Kota...