ProfilLukitasari, Dari Sawah ke Ruang Strategi...

Lukitasari, Dari Sawah ke Ruang Strategi Menuju Petani Mandiri

SINAR KOTA, SURABAYA – Pagi itu di sebuah sawah, deretan batang padi bergoyang ditiup angin. Di antara petani yang sibuk menyiangi, seorang perempuan berjaket sederhana berjalan sambil berbincang.

Ia bukan sekadar tamu. Ia memahami bahasa tanah, tahu kapan bibit mesti ditebar, dan paham apa yang membuat petani resah. Perempuan itu adalah Lukitasari, akrab disapa Mbk Kiki.

Nama Kiki belakangan makin sering terdengar di lingkaran komunitas Pasmanbaya. Ia dipercaya menjadi Ketua Bidang Usaha, posisi yang tidak sekadar jabatan, melainkan ladang untuk membuktikan komitmen.

Dari tangannya lahir program jagung seluas 20 hektar yang ditargetkan berkembang lima kali lipat. Jagung dipilih bukan kebetulan, sederhana dalam perawatan, cepat dalam panen, dan berulang dalam siklus.

Tapi jejak Kiki jauh lebih panjang dari itu. Tahun 2008 ia mendirikan perusahaan pertamanya, langsung dipercaya menjadi rekanan TNI, PT. Eka Naga Indonesia namanya.

Delapan tahun berselang, PT. Eka Naga Indonesia lahir dengan fokus lebih jelas, membina petani, membentuk Gapoktan, dan menjaga agar hasil panen tidak jatuh ke tengkulak. Kini, lebih dari seratus Gapoktan berdiri di bawah bendera perusahaan itu.

“Disiplin dan kepercayaan, itu modal yang tidak bisa ditawar,” katanya suatu kali. Kalimat yang singkat, tapi berisi, khas pengusaha yang sudah kenyang berhadapan dengan risiko.

Risiko itu datang dari banyak arah. Perbedaan pola pikir petani di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga luar pulau kerap menimbulkan gesekan.

Tanah berbeda, adat berbeda, pendekatan pun tidak bisa disamaratakan. Kiki menjawabnya dengan tim penyuluhan di setiap daerah.

Tim inilah yang menjembatani, memberi pendampingan, dan memastikan setiap petani merasa didengar.

Ada satu hal yang membuatnya tegas: perlindungan harga panen. Baginya, petani terlalu sering dipaksa tunduk pada permainan tengkulak.

“Kasihan petani jika harga dimainkan sesuka hati,” ucapnya tanpa tedeng aling-aling.

Di Pasmanbaya, gagasan besarnya lebih konkret. Sebagian hasil panen jagung akan disimpan sebagai kas abadi.

Dana ini jadi tulang punggung kegiatan sosial dan keagamaan. Dengan begitu, milad atau pengajian tidak lagi memberatkan anggota. Sistem yang rapi, terukur, dan berkelanjutan.

Kiki tumbuh di keluarga petani Ambarawa. Sejak kecil, bau lumpur sawah akrab dengannya. Dari sanalah lahir pandangannya yang teguh, Indonesia tidak seharusnya bergantung pada impor pangan.

“Kita ini negara agraris. Kalau serius, petani bisa mandiri, dan bangsa ini tidak perlu lagi bergantung pada tengkulak,” tegasnya.

Kebanggaan terbesar baginya sederhana: menyaksikan wajah petani berseri saat panen raya. Senyum itu lebih berharga dari angka omzet atau grafik laba.

Kini, dengan kombinasi pengalaman bisnis, kedekatan kultural dengan dunia tani, dan posisi strategis di Pasmanbaya, Kiki menapaki jalannya sendiri.

Jalan yang ia pilih bukan sekadar soal hasil panen, tetapi tentang kedaulatan pangan dan martabat bangsa. (Red).

Share post:

spot_imgspot_img

Pupuler

BERITA TERKAIT
BERITA TERKAIT

Di Tengah Krisis Global, PT MNJ Gelar Doa Bersama untuk Bangsa dan Perdamaian Dunia

SINAR KOTA, GRESIK — Kawasan PT Metatu Nusantara Jaya...

HUT Ke-11 PT MNJ Dipusatkan di Area Perusahaan, Hadirkan Habib Syech

SINAR KOTA, SURABAYA – PT Metatu Nusantara Jaya (MNJ)...

Trauma dan Ketidakadilan, Perjuangan M Soleh Cari Perlindungan Negara di Surabaya

SINAR KOTA, SURABAYA – Tidak semua luka mengeluarkan darah....

PERTINA Surabaya Dorong Remaja Tinggalkan Tawuran, Beralih ke Ring Tinju

SINAR KOTA, SURABAYA - Fenomena tawuran remaja di Kota...