DaerahPetani Tembakau Pamekasan Bertahan di Tengah...

Petani Tembakau Pamekasan Bertahan di Tengah Cuaca Tak Bersahabat

SINAR KOTA, PAMEKASAN – Di malam, di bawah lampu temaram, Hozainuddin, petani asal Desa Lemper, Kecamatan Pademawu, tampak sibuk merajang daun-daun tembakau yang baru beberapa hari lalu dipetik.

Rajangan demi rajangan diproses di atas besek yang dibuat khusus tembakau, menunggu proses pengeringan. Tahun ini, ia tak bisa tersenyum lepas seperti biasanya.

“Mutunya menurun, beratnya berkurang. Tapi saya tetap berharap harga tidak turun terlalu jauh,” ucapnya, sambil menatap rajangan tembakau yang mulai menguning.

Musim panen raya tembakau Madura yang biasanya menjadi masa paling dinanti petani, tahun ini terasa getir.

Cuaca ekstrem dengan angin kencang dan kelembapan tinggi membuat berat rajangan turun hingga 20 persen.

Produksi tembakau Madura, yang biasanya menjadi kebanggaan, kini menghadapi kenyataan pahit, mutu yang tak sebaik tahun lalu.

Menurut Hozainuddin, hasil dari lahan miliknya berkurang sekitar 10 hingga 20 persen.

Karena itu, ia tidak berani menebas banyak dari petani lain. “Kalau beli terlalu banyak dan harga jatuh, bisa rugi besar,” katanya.

Ia kini merajang tembakau asal Sumenep sebanyak delapan bal, masing-masing dengan berat sekitar 40–50 kilogram. Harapannya sederhana, harga jual bisa di atas Rp50.000 per kilogram. “Kalau panas stabil, mudah-mudahan bisa balik seperti dulu,” tuturnya.

Cuaca menjadi faktor penentu hidup-mati bagi petani tembakau Madura. Sedikit saja turun hujan di masa panen, daun akan rusak.

Daun menjadi lembap, sulit kering, dan kehilangan aroma khasnya. “Hujan di waktu seperti ini itu bencana kecil buat kami,” ujar Hozainuddin.

Para pedagang besar yang bekerja sama dengan pabrikan rokok besar pun kini menurunkan harga beli.

Situasi ini membuat petani kecil semakin tertekan, sementara ongkos tenaga dan bahan bakar terus naik.

Namun di tengah ketidakpastian, optimisme tak sepenuhnya pudar. “Cuaca mulai membaik, dan saya percaya tembakau Madura masih bisa bersaing. Ini soal kesabaran dan harapan,” kata Hozainuddin dengan nada yakin.

Bagi para petani Madura, tembakau bukan sekadar tanaman ekonomi.

Ia adalah simbol ketekunan dan harga diri. Setiap helai daun yang dikeringkan adalah hasil perjuangan menghadapi alam, dan keyakinan bahwa musim berikutnya selalu membawa peluang baru.

Share post:

spot_imgspot_img

Pupuler

BERITA TERKAIT
BERITA TERKAIT

Di Tengah Krisis Global, PT MNJ Gelar Doa Bersama untuk Bangsa dan Perdamaian Dunia

SINAR KOTA, GRESIK — Kawasan PT Metatu Nusantara Jaya...

HUT Ke-11 PT MNJ Dipusatkan di Area Perusahaan, Hadirkan Habib Syech

SINAR KOTA, SURABAYA – PT Metatu Nusantara Jaya (MNJ)...

Trauma dan Ketidakadilan, Perjuangan M Soleh Cari Perlindungan Negara di Surabaya

SINAR KOTA, SURABAYA – Tidak semua luka mengeluarkan darah....

PERTINA Surabaya Dorong Remaja Tinggalkan Tawuran, Beralih ke Ring Tinju

SINAR KOTA, SURABAYA - Fenomena tawuran remaja di Kota...