TerkiniHaikal dari Reruntuhan Al-Khoziny: Zikir di...

Haikal dari Reruntuhan Al-Khoziny: Zikir di Tengah Debu, Doa di Antara Batu

SINAR KOTA, SIDOARJO – Di antara debu dan serpihan beton yang berserakan, suara lirih itu sempat terdengar:
“Semuanya sakit… tapi aku masih bisa salat.”

Itulah bisikan terakhir Syailendra Haikal (13), santri kecil Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, sebelum kesadarannya mengambang di antara hidup dan mati.

Dua hari dua malam ia tertimbun reruntuhan musala yang ambruk pada Senin sore, 29 September 2025 — tempat di mana ia sebelumnya menunduk khusyuk dalam sujud.

Di atas tanah yang kini retak dan basah oleh air mata, waktu seakan berhenti. Tapi di balik puing itu, ada cerita kecil tentang iman yang tak padam meski dunia di sekitarnya runtuh.

Enam hari berlalu sejak musibah itu. Tim SAR gabungan masih menyisir sisa bangunan yang patah, menembus puing dengan sekop, doa, dan sabar.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut total korban mencapai 167 orang.

“Hingga Sabtu (4/10/2025), sebanyak 118 orang ditemukan. Rinciannya, 103 selamat, 14 meninggal dunia, dan satu pulang tanpa perawatan medis. Sisanya 49 orang masih dalam pencarian,” ujar Abdul dengan suara tenang, tapi matanya lelah menatap data yang terasa lebih berat dari angka.

Di rumah sakit, 14 santri masih berbaring menahan perih. Sebagian lain sudah pulang, membawa luka yang tak kasatmata.

Ruang perawatan di RSUD R.T. Notopuro, Sidoarjo, sore itu terasa sesak. Aroma antiseptik bercampur haru. Di ranjang putih, bocah berwajah pucat itu terbaring. Matanya sayu tapi tajam, seolah ingin berkata bahwa ia sudah melihat sesuatu yang jauh lebih besar dari rasa sakit.

“Haikal usianya hampir sama dengan anak saya,” ucap Dr. Lia Istifhama, anggota DPD RI asal Jawa Timur, ketika menjenguknya pada Kamis (2/10/2025).

“Saya melihat sorot matanya menahan sakit, tapi juga keteguhan. Masya Allah, anak ini luar biasa.”

Lia, yang akrab disapa Ning Lia, menatap Haikal dengan mata berkaca. Ia bukan sekadar menjenguk korban, tapi menyaksikan wujud keteguhan iman di tubuh kecil yang penuh perban itu.

Zikir di Tengah Reruntuhan

Dalam kondisi terjepit beton dan gelap gulita, Haikal masih sempat melaksanakan salat. Ia bahkan mengajak temannya untuk berjamaah. Namun pada hari kedua, ajakannya tak lagi bersambut.

“Dari situ ia sadar, sahabat di sebelahnya sudah berpulang,” tutur Lia dengan nada tergetar.

Ibunda Haikal, Dwi Ajeng, masih menahan tangis ketika mengingat ucapan anaknya.
“Bayangkan, di bawah beton yang menindih, anak saya masih ingat salat. Itu membuat saya menangis sekaligus bersyukur,” katanya.

Share post:

spot_imgspot_img

Pupuler

BERITA TERKAIT
BERITA TERKAIT

Di Tengah Krisis Global, PT MNJ Gelar Doa Bersama untuk Bangsa dan Perdamaian Dunia

SINAR KOTA, GRESIK — Kawasan PT Metatu Nusantara Jaya...

HUT Ke-11 PT MNJ Dipusatkan di Area Perusahaan, Hadirkan Habib Syech

SINAR KOTA, SURABAYA – PT Metatu Nusantara Jaya (MNJ)...

Trauma dan Ketidakadilan, Perjuangan M Soleh Cari Perlindungan Negara di Surabaya

SINAR KOTA, SURABAYA – Tidak semua luka mengeluarkan darah....

PERTINA Surabaya Dorong Remaja Tinggalkan Tawuran, Beralih ke Ring Tinju

SINAR KOTA, SURABAYA - Fenomena tawuran remaja di Kota...