Air dari Sosok Tak Dikenal
Di hari pertama tertimbun, Haikal mengaku haus. Saat itu, ia melihat sosok anak kecil datang membawakan air dan berkata lembut, “Kakak haus?” Lalu sosok itu menghilang begitu saja.
“Kita tak tahu apakah itu halusinasi positif atau pertolongan Ilahi,” ujar Lia. “Tapi jelas, Haikal dipilih Allah agar kita belajar tentang empati dan makna keselamatan anak-anak santri.”
Dalam gelap, Haikal juga belajar bertahan hidup dengan akalnya. Ia memilih tak banyak bergerak agar energi tubuhnya tidak cepat habis.
“Dia ingat pelajaran IPA tentang energi tubuh,” kata Lia sambil tersenyum kecil. “Cerdas dan beriman, dua hal yang membuatnya selamat.”
Kini, setelah tubuhnya mulai pulih, Haikal mengungkapkan cita-citanya, menjadi seorang tentara.
Ia ingin tetap belajar, melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Probolinggo, dekat rumah keluarganya.
“Haikal ingin berbakti dan menolong orang lain,” tutur Lia. “Kami sudah komunikasi dengan sekolahnya. Insya Allah ada lampu hijau, tinggal menunggu kesembuhan total.”
Bagi Lia, Haikal bukan sekadar korban selamat, tapi simbol patriotisme santri modern.
“Ia teguh iman, kuat mental, dan berjiwa sosial. Ia pantas menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia,” ucap senator yang dikenal dengan tagline CANTIK (Cerdas, Inovatif, Kreatif) itu.
Doa Syahid dan Refleksi Bangsa
Basarnas mencatat, Haikal dievakuasi pada Rabu (1/10/2025) pukul 15.22 WIB, korban ke-13 yang berhasil diselamatkan.
Beberapa meter darinya, seorang santri ditemukan dalam posisi sujud.
“Mereka yang wafat insya Allah mati syahid,” ujar Lia pelan. “Mereka menuntut ilmu, beribadah, dan berpulang di rumah Allah. Bukankah itu kemuliaan?”
Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menyebut penyelamatan Haikal dan Yusuf (16) sebagai momen paling dramatis selama operasi. “Kami mendengar suaranya lemah, tapi jelas. Ia terus berzikir. Kami semua terdiam.”
Kini reruntuhan musala Al-Khoziny telah menjadi saksi bisu, antara air mata dan doa, antara kehilangan dan keajaiban.
Haikal mungkin masih terbaring, tapi kisahnya sudah berdiri tegak, tentang iman seorang anak kecil yang menolak menyerah, bahkan ketika langit seolah runtuh di atasnya.
Dan mungkin, dalam setiap doa yang terucap untuk para santri itu, terselip bisikan lembut dari reruntuhan:
“Kami baik-baik saja. Kami hanya pulang lebih dulu.” (Red),


